Soekarno dan Soeharto adalah Presiden pertama dan kedua indonesia, tentu saja banyak perbedaan dalam gaya kepemimpinan mereka karena adanya perbedaan dalam tingkat intelektual,spriritual dan emosional yang menyebabkan perbedaan interaksi sosial mereka. Presiden sebagai kepala negara dan kepala pemerintahan yang memiliki tujuan primer melalui berbagai programnya, maka gaya komunikasi yang dipakai presiden sangat berpengaruh dalam memimpin sebuah negara.
Gaya komunikasi seseorang dapat diteliti dari
berbagai aspek komunikasi, salah satunya adalah aspek konteks menurut
teori Edward T. Hall (1976). Hall menyatakan dari segi kultur,
kebudayaan manusia secara global dapat dibagi dalam 2 (dua) kategori,
yaitu kebudayaan konteks tinggi (high context culture) dan konteks
rendah (low context culture).
Soekarno dari sejarah yang ada dikenal sebagai sosok yang mempunyai ilmu yang dalam, pintar dalam menangani masalah politik,berani menghadapi tantangan dan tegas. Soekarno juga dikenal sebagai sosok yang berbicara jelas, to the point dan gamblang, pola komunikasinya low context karena dia sering berbicara apa adanya,konsisten,terbuka dan tegas, jadi, jika dia marah, ia akan marah, menantang, memperingatkan dan mengancam. contohnya dalam pidato-pidatonya Soekarno berbicara dengan intonasi yang meledak-ledak dan penuh semangat yang akhirnya mampu membakar semangat pemuda-pemuda Indonesia. Dengan gaya komunikasinya masyarakat mampu dengan mudah mengerti dan memahami makna kata dan kalimat yang Soekarno utarakan.
Berbeda dengan Soeharto dalam masa menjabat Presiden, Soeharto lebih terlihat kalem dan banyak senyum yang akhirnya dijulukin "The smiling general". Gaya komunikasi Soeharto lebih ke high context karena dalam berbicara dan berpidato dia lebih sering menggunakan simbol-simbol, tidak to the point, banyak kepura-puraan, teka-teki, multi tafsir, rahasia sangat santu serta singkat dan tidak bertele-tele. Soeharto dinilai orang yang tertutup dan ketika dia sedang marah atau tidak suka dia tetap memakai bahasa yang high context juga. maka dari itu, dengan bahasa yang tinggi tersebut tidak sedikit orang yang tidak mengerti dan salah tafsir dalam setiap perkataan dan kalimat yang diutarakan Soeharto dan tidak heran kalau yang mengerti perkataan Soeharto hanya orang-orang yang sudah lama berinteraksi dengan dia karena mereka sudah terbiasa dengan pola komunikasi yang dipakai oleh Soeharto
Tidak ada komentar:
Posting Komentar